- 11 Des 2025, 11.11
- 3 min read
Federal Reserve Pangkas Suku Bunga 25 BPS ke 3,50-3,75%, Sinyal Wait-and-See
The Federal Reserve (The Fed) AS memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,50-3,75% pada Rabu (10/12/2025) waktu AS, menjadikannya pemangkasan ketiga tahun ini. Suku bunga ini adalah yang terendah sejak September 2022. Meskipun pemangkasan ini dilakukan di tengah pelemahan ekonomi pasca-shutdown, Ketua The Fed Jerome Powell mengadopsi sikap "wait and see" karena The Fed menghadapi dilema sulit: memburuknya pasar tenaga kerja bersamaan dengan meningkatnya inflasi. Powell menegaskan satu alat kebijakan The Fed (suku bunga) tidak dapat menyelesaikan dua masalah ekonomi yang saling bertentangan secara bersamaan.

Federal Reserve Pangkas Suku Bunga 25 BPS, Akhiri Siklus Pengetatan Panjang
Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), akhirnya memenuhi ekspektasi pasar dengan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps), menurunkan target federal funds rate ke level 3,50%-3,75%. Pengumuman ini disampaikan pada Rabu (10/12/2025) waktu AS setelah menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari.
Pemangkasan ini merupakan yang ketiga sepanjang tahun 2025, menyusul pemangkasan pada September dan Oktober lalu. Suku bunga saat ini adalah yang terendah sejak September 2022, menandai pembalikan kebijakan yang signifikan setelah periode panjang suku bunga tinggi.
Linimasa Kebijakan Moneter Sejak 2022
The Fed sebelumnya telah melakukan siklus pengetatan yang agresif:
- Maret 2022 - Juli 2023: The Fed mengerek suku bunga total 525 bps.
- September - Desember 2024: The Fed memulai pemangkasan suku bunga dengan total 100 bps, membawa suku bunga ke 4,25%-4,50%.
- Januari - Agustus 2025: Suku bunga ditahan.
- September & Oktober 2025: Pemangkasan dilanjutkan, diikuti pemangkasan Desember 2025.
Pergeseran Sikap ke "Wait and See"
Meskipun memangkas suku bunga, Ketua The Fed Jerome Powell mengindikasikan bahwa bank sentral akan beralih dari pemotongan suku bunga yang berurutan menjadi sikap menunggu dan melihat perkembangan (wait and see). Perubahan sikap ini dipengaruhi oleh minimnya data ekonomi yang reliable dan situasi ekonomi yang tidak pasti, diperburuk oleh shutdown pemerintah yang berlangsung hingga 43 hari sejak awal Oktober.
- Dampak Shutdown: Powell mengakui shutdown telah memperlambat ekonomi, namun ia optimistis bahwa berakhirnya shutdown akan mendorong pemulihan ekonomi pada Desember dan bulan-bulan berikutnya.
- Tantangan Saat Ini: "Ini situasi yang sangat menantang," ujar Powell. "Saya pikir kita berada di posisi yang tepat untuk, seperti yang saya sebutkan, menunggu dan melihat bagaimana ekonomi berkembang."
Dilema Suku Bunga: Pasar Tenaga Kerja vs. Inflasi
Powell menjelaskan bahwa The Fed berada dalam posisi yang sangat sulit karena perekonomian AS menghadapi dua masalah rumit yang terjadi secara bersamaan: pasar tenaga kerja memburuk sementara inflasi justru meningkat.
Satu Alat, Dua Masalah
Powell menekankan keterbatasan alat kebijakan The Fed: suku bunga hanya bisa membantu menstimulasi pasar tenaga kerja atau mengendalikan harga, tetapi tidak dapat melakukan keduanya secara simultan.
- Stimulasi Lapangan Kerja: Mendorong pertumbuhan lapangan kerja dapat meningkatkan permintaan agregat, yang cenderung meningkatkan inflasi.
- Pengendalian Inflasi: Menjaga inflasi tetap rendah sering kali memerlukan kebijakan moneter yang ketat, yang pada akhirnya dapat melemahkan pasar tenaga kerja.
"Anda hanya punya satu alat. Anda tidak bisa melakukan dua hal sekaligus," tegas Powell, menggarisbawahi kompleksitas dilema stagflasi (stagnasi pertumbuhan dan inflasi tinggi) mini yang dihadapi The Fed.
Kesimpulan
Keputusan The Fed untuk memangkas suku bunga sebesar 25 bps ke level 3,50%-3,75% menunjukkan respons terhadap pelemahan ekonomi pasca-penutupan pemerintahan. Namun, sinyal "wait and see" dari Ketua Powell menekankan bahwa bank sentral berada dalam posisi paling menantang, terjebak antara kebutuhan untuk menyelamatkan pasar tenaga kerja dan kewajiban untuk menahan laju inflasi. Keputusan kebijakan selanjutnya akan sangat bergantung pada data yang masuk di awal tahun 2026.
Related Posts
Artikel terkait yang mungkin Anda suka
Circle dan Aleo Luncurkan USDCx: Stablecoin USDC Berfokus Privasi Zero-Knowledge

NEAR Protocol Capai Tonggak 1 Juta Transaksi per Detik Berkat Upgrade Nightshade 2.0

SEC Rilis Panduan Kustodian Kripto, Dorong Integrasi Aset Digital ke Sistem Perbankan

A16z Crypto Buka Kantor Asia Pertama di Seoul, Tunjuk Sungmo Park Pimpin Ekspansi Regional

Presiden Trump Klaim Pertahankan Hubungan Baik dengan Presiden Xi Jinping

Aktivitas On-Chain XRP Ledger Anjlok 89%, Biaya Transaksi Turun ke Level Desember 2020

Latest Posts
Artikel terbaru dari blog kami









